Jika kau ingin tau, sudah berapa tahun kita tak lagi bersama.
Dan sejak itu, aku merasa bahwa aku mampu tanpa kau.
Tapi nyatanya aku salah, fikiranku tak ingin jauh dari semua tentang kau.
Tawamu, senyummu, omelanmu, membekas!
Sulit memang berbicara tanpa fakta, karena kau memang tak tau.
Atau jangan-jangan tak ingin tau?
Aku menunggu, begitu lama.
Berharap kau datang kembali, dengan cinta yang lebih.
Bolehkah aku berharap?
Sejak saat itu, seingatku 10 juli tahun lalu.
Aku tak membuka hati tuk siapapun.
Karena disini masih ada kau, yang mengisinya.
Aku bukan sok romantis, puitis, atau malah mendramatisir keadaan.
Aku berbicara jujur, aku tersiksa dengan ini.
Mencintaimu yang tak pernah tau.
Merindukanmu yang selalu acuh.
Kau tau sakitnya?
Aku memang tak pernah menunjukannya.
Apa kau begitu cepat lupa?
Tentang semua, kau, dan juga aku?
Aku rindu saat itu, andai saja.
Waktu tak pernah berputar kembali, itulah yang membuat aku menyesal tak mempertahankanmu saat itu.
Bukan karena aku ini tak cinta kau.
Tapi karena mataku lebih dulu basah dan membuatku tak mampu berbuat lebih lanjut.
Aku memang tampak tegar, seolah kuat tanpamu.
Menanti kau tanpa henti, berusaha tuk tidak pernah lelah.
Meski diacuhkan.
Entah bagaimana dengan kau?
Samakah merindukanku?
Atau kau malah sebaliknya, membenciku dengan sangat.
Jika iya, kenapa?
Karena masalah kita berpisah?
Karena aku tak mempertahankanmu?
Aku ingin, tapi ku takut kau fikir aku wanita macam apa.
Atau karena aku selalu cemburu?
Karena aku selalu marah?
Itu karena aku ingin dapat perhatian lebih darimu.
Hanya itu.
Semua terlalu mudah kutulis disini.
Dibanding harus melihatmu dan menjelaskan semuanya denganmu.
Tulisan-tulisan inilah yang menunjukan, apa yang aku rasa, apa yang aku pendam, dan apa yang selalu aku fikirkan.
Itu tentang kau