Sabtu, 28 Desember 2013

Yang tersisa~

Sebenarnya, aku tak pernah ingin jauh darimu.
Tapi kupaksakan, meski raga dan hatiku bertolak belakang.
Aku mencintaimu, kau datang padaku.
Membawa sesuatu yaitu cinta, dan ternyata cinta itu tumbuh.
Namun kini, maaf kita tak bisa lanjutkan semua.
Aku tak ingin terus menerus terluka.
Entah siapa yang salah.
Aku atau hatiku? Atau kau?
Entahlah, setiap aku tuliskan kata demi kata didalam buku cintaku,
Semua itu karena kau, karena aku tak pernah tau dengan siapa aku menceritakan kau.
Mereka? Mereka tak pernah mengerti.
Dengan apapun yang aku rasa, dengan apapun yang aku lalui.
Kau? Apa kau sama tak pernah mengerti.
Mendatangiku sesukamu, membuatku mencintaimu.
Meninggalkanku semaumu, disaat cinta itu tlah benar tumbuh.
Oh maha dahsyat cinta yang ada.
Membuat semua bergetar hebat, meski hanya namamu yang kudengar.
Aku bukanlah seorang penyair cinta.
Tapi lekukan jariku ingin menuliskan kata-kata tentang kau.
Kau mungkin tak pernah tau, aku merindukanmu disetiap waktu.
Meski rasa angkuhku, meski aku selalu berbohong tuk berkata tak pernah merindukanmu.
Tak pernahkah kau mencoba peka terhadapku? Menebak apa yang sedang aku rasakan?
Aku tau kau bukan peramal.
Bukan seseorang yang pandai menerka.
Tapi coba menerka, kumohon. Ini untukku, hatiku, dan tentangmu.
Aku tau kau tak bisa melakukan apa yang aku mau.
Tapi kau tak pernah mau mencoba melakukan itu untukku.
Apakah sekarang semua salahku?
Meminta kau pergi menginggalkanku dan tak kembali?
Ku hanya tak mau terus menerus terluka.
Karena dianggap layaknya pelabuhan.
Aku lelah menunggu kabar darimu setiap malam.
Aku lelah berpura-pura bahagia didepan mereka dan menceritakan kebohongan bahwa aku bahagia denganmu.
Biarlah, cinta kita takkan pernah menyatu.
Karena kita terbatas oleh keegoisanku, mungkin.
Kini semua menjadi salahku.
Aku mencoba tak menyesal mencintaimu.
Karena dulu aku yang menerima kau tuk mengisi hari serta hatiku.
Dan kini? Aku pulalah yang bertanggung jawab atas luka ini.
Dan akulah yang harus mencari pengobatnya.
Wahai orang yang aku impikan menjadi imamku.
Maafkan jika cintaku hanya berbatas disini.
Aku tak sanggup dijadikan pelabuhan.
Aku tau kau juga tersiksa dengan ini semua.
Tapi biarlah, aku tak ingin keterpaksaan ini menambah luka untuk kita.
Aku percaya kau akan dapati wanita yang lebih sempurna.
Tinggalkan aku, biar kenangan yang kau titipkan dihatikulah yang tersisa~

Kamis, 26 Desember 2013

Mahameru~

Aku ingin sekali kesana, ketempat yang tinggi.
Meskipun sebenarnya aku takut ketinggian.
Aku ingin jelajahi dan meninggalkan tapakku disana.
Dipuncak tertinggi semeru, mahameru.
Wahai mahameru, aku tidaklah pendaki yang gagah.
Tidak juga bisa disebut seorang pendaki.
Tapi aku tetap memimpikanmu disetiap langkah.
Kau yang ingin ku tuju.
Berada dipuncak semeru memberikan kedamaian untukku.
Karena cintaku ada disana.
Memandang dan mendaki 3676 mdpl adalah impianku.
Cintaku berada dimahameru.
Melewati ranu kumbolo dan beristirahat sejenak.
Bahkan ku ingin menyelami segarnya air disana.
Ku tau panas, dingin, cuaca tak menentu akan menyapaku.
Tapi aku tau, cintaku adalah puncakmu.
Dan aku akan sampai kesana.
Mahameruku, jika ada yang lebih indah dari kau.
Beri tau aku, karena selama ini tak aku temukan yang seperti kau.
Mahameruku~

Senin, 23 Desember 2013

Kuputuskan pergi~

Sekarang ku tlah ketahui.
Banyak hal tentang kita yang tak sama.
Aku dengan caraku.
Kau dengan caramu sendiri.
Dan cara kita bertentangan, baik itu dalam hal mencintai.
Kini kuputuskan tuk menjauh, untuk pergi.
Bukan karena aku tak mencintaimu.
Tapi karena kurasa dengan kepergianku kau akan menjadi lebih baik.
Tentunya tanpa aku.
Bukan aku tak peduli.
Tapi aku tau peduliku tak dipedulikan.
Dan aku tau kau bisa tertawa tanpa aku.
Ku putuskan untuk pergi.
Bukan karena aku mudah melupakanmu.
Tapi karena aku tau aku dilupakan.
Aku hanya berusaha melakukan apa yang kau lakukan padaku.
Bukan karena aku kejam.
Tapi karena aku merasa itu pantas.
Cinta tak begini. Bukankah cinta saling mengerti?
Minimal saling melengkapi?
Tapi kita? Aku sendiri. Kau pun sendiri.
Selalu ada kekosongan diantara kita.
Hening, sunyi, dan tak bersuara.
Aku bosan berada dikeadaan ini.
Maka izinkanlah aku pergi.
Aku tau dia adalah yang terpenting untukmu.
Lalu aku pasti tak berguna. Bila berguna, bila diperlukan pun hanya untuk sebuah penghibur.
Itulah alasan ku untuk pergi.
Aku tak ingin lagi membuat diriku terpenjara oleh kesedihan tak berujung.
Aku tak ingin terus menerus menyalahkan kau dan dia.
Aku tak ingin terus-terusan merasa cemburu dan meneteskan air mata.
Izinkan aku untuk pergi.
Aku tak tau kemana aku akan pergi.
Yang pasti, keluar dari dalam skenario yang kau buat aku akan lebih baik.
Karena itu kuputuskan untuk pergi~

Kamis, 12 Desember 2013

Aku bosan menjadi bonekamu~

Aku, aku ini seperti boneka.
Bukan karena lucuku.
Tapi karena aku bisa dikendalikan, dan dengan mudah dapat dipermainkan.
Bisa diangkat, dijatuhkan, maupun diapakan itu.
Dan kau, kau yang mengendalikan aku.
Mengendalikan hati, serta fikiranku.
Kau bisa-bisanya datang, dan mudah untuk pergi.
Dan aku, dengan mudaynya pula menerima kau untuk kembali.
Sebenarnya aku ingin pergi, aku bosan jadi bonekamu.
Aku bosan diperlakukan sesukanya.
Aku benci, tapi? Aku? Cinta ini yang membuat aku tertahan disini.
Dikondisi hati yang amat tidak aku sukai.
Kau? Seenaknya saja.
Kau? Pernah terbesit bagaimana aku sakit karena kau?
Karena permainan yang tidak mengenakkan hati ini?
Kau pernah tau? TIDAK!
Kau hanya memikirkan dirimu, kebahagiaanmu, dan apa yang kau suka!
Dan aku? Kenapa kondisiku tak pernah berubah?
Selalu menjadi orang yang terjajah.
Selalu menjadi orang yang tak berdaya.
Tak pernah bisa melepaskan diri dari jerat orang seperti kau!
Ah, aku benci!
Tapi kau tetap tak akan pernah peduli!
Dulu dan sekarang terlalu berbeda.
Terlalu tak aku kenal. Tak seperti kau yang pertama kali aku kenal.
Tak seperti kau yang membuat aku jatuh cinta.
Dulu, aku adalah yang terpenting.
Tapi sekarang? Kata penting itupun aku tak tau seperti apa.
Kau terlalu sering mendatangiku seenaknya saja.
Membuat aku jatuh cinta, membuat aku patah hati seenaknya saja!
Dan aku juga seenaknya saja menerima kau kembali.
Apa itu alasan kau suka datang dan pergi?
Apa karena ketidaktegasanku ini?
Apa karena dia? Lagi-lagi kubawa namanya didalam permasalahan kau dan aku.
Sekarang, kau tak pernah mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
Antara kau dan dia!
Berbeda dengan dulu, kau selalu saja takut aku cemburu.
Sekarang cemburuku pun diacuhkan.
Bahkan cemburu pun diacuhkan?
MENYEDIHKAN!
Izinkan aku untuk bisa. Tanpa KAU!

Rabu, 04 Desember 2013

Mengertikah kau~

Aku tidaklah seperti dia.
Seperti dia yang begitu indah, bagimu.
Aku tak sama seperti dia, bahkan meski aku tlah mencoba.
Aku tetap seperti apa yang aku punya, seperti apa diriku yang sebenarnya.
Kau, aku tau aku mencintaimu.
Tapi bukan berarti aku harus menjadi dia agar kau menyukaiku.
Aku ingin seperti ini, seperti diriku yang sebenarnya.
Tidak memakai topeng saat ada didepanmu, saat bersamamu.
Aku tau, ketidaksempurnaan ku adalah suatu yang tak kau inginkan.
Aku tau, dialah yang ada dibenakmu, difikiran, serta hatimu.
Selalu dia, aku tak pernah ada.
Bahkan untuk terbesit membayangkanku pun mungkin hanya khayalan belaka.
Kau yang aku sukai, mengertikah kau sinyal ini?
Apa sinyal cintaku tertutup akan kesempurnaannya? Wanita itu?
Kenapa aku harus selalu berurusan dengan dia.
Dengan wanita yang tidak begitu aku kenal.
Dengan dia yang juga menginginkanmu.
Aku harus berjuangkah untuk kau?
Untuk cinta yang penuh fatamorgana?
Untuk cinta yang penuh harapan semu.
Kenapa aku begitu bodoh mempertahankan kau?
Mempertahankan kau yang tak ingin dipertahankan.
Mencintai kau yang tak ingin dicintai oleh orang seperti aku ini.
Ah, Jika aku hanya bermimpi saat menginginkanmu.
Maka aku berharap untuk terbangun segera dan tak akan terlelap lagi~

Minggu, 01 Desember 2013

Aku ingin sepertinya~

Lagi-lagi kelebihannya membuatku kelu.
Aku begitu jauh dari kata sempurna.
Jika dibandingkan dengan dia, wanita idamanmu.
Tapi aku begitu ingin, menggapaimu, bersamamu.
Walau itu layaknya kemustahilan yang nyata.
HAHAH, entah ada apa dengan diriku? Dengan hatiku?
Dengan apa yang berhubungan denganmu.
Kau begitu mengacaukan fikiranku.
Mengacaukan setiap apa yang aku lihat, semua seperti berbayang, dan itu tentangmu.
Kau pernah merasa bersalah atas cinta yang kau tanam disini, dihatiku?
Kau pernah tau bagaimana aku merasa bersalah atas cinta yang ada untukmu?
Karena dia, lagi-lagi dia. Kau dan dia adalah orang yang selalu aku salahkan.
Aku begitu iri padanya. Pada dia yang begitu sempurna.
Jauh dibandingkan dengan aku yang tidak ada apa-apanya.
Kau pernah tau aku sering berfikir bagaimana caranya menjadi dia?
Menjadi dia yang selalu kau berikan senyum.
Menjadi dia yang selalu mendapatkan tempat lebih indah dihatimu.
Aku ingin, karena aku ingin dapat tempat yang indah dihatimu.
Dia, aku? Kami jauh berbeda. Dan aku tau, kau pasti tau itu.
Tak pernah ada apa-apanya.
Tapi aku selalu pendam harapan itu, harapan bersamamu.
Dia membuat aku ingin menyerah.
Membuat aku ingin pergi, tapi hatiku menahannya.
Hatiku tak pernah mengizinkanku melepaskanmu walau hanya sedikit.
Juga tak pernah membiarkanku melihat kau dengannya.
Aku cemburu, ku tau aku tak berhak.
Tapi hatiku memaksaku untuk cemburu.
Sebenarnya peristiwa apa yang terjadi antara aku, kau, dan dia.
Kenapa aku selalu menyalahkan kalian?
Kenapa aku selalu tertindas didalam skenario ini?
Kau! Dia! Aku!
Segitigakah kita? Segiempat dengan hatiku yang tak mau mengalah dengan ragaku?
Aku ingin denganmu juga, ingin sesempurna diam agar bisa sedikit saja kau pandang lebih.
Aku ingin diberi kabar, seperti dia yang tanpa menunggu telah kau beri kabar.
Aku ingin sepertinya~

Ada apa~

Bodohnya aku adalah aku tak pernah bisa mengacuhkanmu.
Tak pernah bisa membuatmu tau bahwa aku kecewa.
Aku terlalu takut membuatmu terluka, aku tak pernah bisa membuatmu merasa bahwa aku marah.
Kau, cobalah untuk sedikit peka tanpa kuminta.
Aku ingin kau tau apa yang kurasa.
Aku menunjukannya dari sikapku.
Bisakah kau tau?
Menerka pun tak bisa?
Aku hanya ingin sedikit dimengerti.
Aku tak tau kenapa ini menjadi begitu rumit dan sulit untuk dicari jalan keluarnya.
Sepertinya aku tlah benar-benar terjebak didalam skenario permainanmu.
Atau aku sama seperti tikus yang disuguhi keju tetapi harus mati didalam perangkap?
Apa aku juga?
Apa salahku?
Kenapa aku yang terjebak didalam perangkap itu?
Kenapa aku diuguhi cinta tapi aku harus mati didalamnya?
Kenapa?
Terlalu banyak tanda tanya diantara kita.
Diantara aku, kau, dan keambangan cinta.
Aku ingin kau mengerti. Begitu tak berartikah aku?
Sehingga terlalu mudah untuk dilupakan?
Dan didatangi kembali dikala kau merasa sepi?
Dan kenapa aku terlalu sulit melupakan? Serta terlalu mudah menerimamu kembali yang semula mengacuhkanku?
Dimana kita sekarang?
Benarkah diujung rasa?
Dulu, kau pernah katakan bahwa aku berarti untukmu.
Dulu, kau selalu berusaha ada untukku.
Tapi sekarang?
Kurasa jauh berbeda, kau yang berubah, atau aku yang begitu perasa?
Ada apa denganku, hatiku~