Kau sesukanya saja mendatangiku.
Dan begitu juga saat pergi.
Aku tak mengira bahwa kita akan jadi seperti ini.
Ku kira dulu, kita akan menjadi lebih baik.
Ternyata aku salah.
Kenapa aku terus-menerus salah menafsirkan tentangmu?
Apa kita memang tak pernah ada dalam takdirNya?
Aku berharap ada nama kita disana, dengan goresan tinta merah dalam lingkaran cinta.
Tapi ternyata aku, bahkan kau tak bisa paksakan itu.
Tuhan punya caranya untuk menunjukan siapa yang terbaik untuk masing-masing diantara kita.
Mungkin saat ini kaulah cinta yang aku inginkan.
Tapi esok? Nanti? Aku tak tau, tak pernah ingin tau.
Aku hanya ingin menjalani itu sebagai sebuah kejutan dariNya.
Kau? Apakah saat ini cintamu juga adalah aku?
Atau dia? Wanita itu? Yang kau banggakan? HAHAHA aku terlalu mengharapkan wanita itu adalah aku!
Yaah, aku harus menghela nafas saat yang kau sebut ternyata namanya.
Aku? Aku hanya bia diam.
Bukan karena wanita itu dia.
Tapi karena wanita itu bukan aku.
Kenapa aku terus mengharapkanmu?
Berharap yang sangat amat tidak pasti tentang kau. Tentang harapanmu?
Kenapa harus aku yang kau beri harapan?
Tetapi kenapa wanita yang kau cintai malah dia?
Kenapa tidak aku saja?
Yaa, aku memang terlalu ingin bersamamu.
Berharap dapat selalu bersamamu.
Tapi mana mungkin, kau terlalu sibuk dengan dia.
Bahkan untuk memandangmu saja terlalu sulit.
Harapanku terlalu besar~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar